Awas jantung anak Gendut

Awas Jantung Anak Gendut

PIPINYA tembem. Tubuhnya tambun. Dengan tinggi 120 sentimeter dan bobot tubuh 45 kilogram, anak perempuan bernama Anita itu tampak jauh lebih besar dibandingkan dengan teman-teman sebayanya di kelas IV sekolah dasar. Padahal, menurut Sarjana, ayahnya, waktu lahir berat badan anak itu cuma 2,8 kilogram.

Tetapi, kian bertambah usia anak itu, tubuhnya pun makin menggembung. Malah, walau makannya tak banyak, tubuh Anita tetap saja membesar. “Mungkin karena dia banyak jajan. Dia suka banget jajanan seperti siomay,” kata sang ayah, yang bekerja di bagian riset sebuah perusahaan di Jakarta Selatan.

Anita adalah satu dari sekian banyak potret anak-anak Jakarta yang mengalami kelebihan berat badan. Tengok saja ke mal-mal, sekolah-sekolah, tempat keramaian, atau tempat-tempat umum, tak sulit menemukan anak-anak bertubuh tambun ini. Dan, memang, jumlah anak dengan berat badan berlebihan ini boleh dibilang cukup banyak. Dengan kegandrungan tinggi pada jajanan pula.

Lihat saja penelitian mutakhir yang dilakukan dr. Damayanti R. Syarif dan dr. Tinuk A. Meilany dari Jurusan Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI). Dalam Simposium Internasional Atherosclorosis di Hotel Sahid, Jakarta, Sabtu pekan lalu, Damayanti melansir hasil penelitiannya yang dilakukan pada tahun 2000.

Dalam penelitian yang dilakukannya selama tiga bulan ini, mereka mengamati kecenderungan anak-anak usia 6-12 tahun di tiga sekolah dasar (SD) swasta di Jakarta. Hasilnya, antara lain, ia mendapati sekitar 27,5% murid di ketiga SD itu mengalami kelebihan bobot tubuh. Jumlah mereka 254 anak, 157 laki-laki dan 97 perempuan.

Riset dokter spesialis anak ini pun tak sebatas angka prevalensi obesitas itu. Peneliti juga mencoba memantau prevalensi faktor-faktor risiko penyakit jantung koroner pada anak-anak yang kegemukan itu. Termasuk juga pola makan mereka umumnya.

Selama penelitian itu, Damayanti dan Tinuk mengukur tinggi, berat badan, lingkar pinggang, dan lingkar pinggul. Untuk variabel independennya, digunakan tiga parameter antropometrik, yakni lingkar pinggang, rasio pinggang terhadap tinggi, dan rasio pinggang terhadap pinggul. Sedangkan variabel dependennya adalah total kolesterol, kolesterol HDL, kolesterol LDL, indeks atherogenic, gaya hidup, tekanan darah sistolik (SBP), dan tekanan darah diastolik (DBP).

Hasil penelitian itu cukup mengejutkan. Bukan saja angka 27,5% anak-anak usia SD itu mengalami obesitas. Yang lebih mengkhawatirkan, tekanan darah sistolik sebagian mereka yang kegemukan itu (sekitar 33,1%) meningkat. Sebagian lagi, sebanyak 20%, memperlihatkan kenaikan tekanan darah diastolik. Dengan kata lain, pada anak-anak itu sudah tampak risiko terkena penyakit jantung koroner.

Data itu pun tampaknya berkait dengan hasil penelitian berikutnya. Anak-anak itu senang jajan di kantin sekolah yang menyediakan jajanan semacam burger dan pizza. Damayanti menemukan fakta, ternyata sebanyak 64% anak yang diteliti melahap kalori 20% lebih besar dari batas yang disarankan badan kesehatan dunia, WHO. Badan dunia tersebut selama ini sudah mematok, kebutuhan kalori yang normal pada anak-anak adalah 1.800-2.000 kalori per hari.

Bahkan, menurut Damayanti, anak-anak itu pun punya kecenderungan mengonsumsi makanan berlemak tinggi. Sebanyak 72% dari mereka yang diteliti melahap lemak 30% lebih banyak dari kebutuhan yang normal. “Selain itu, 50% di antara mereka tidak melakukan kegiatan olahraga,” katanya.

Untuk jumlah kasus anak obese, hasil penelitian itu tak meleset jauh dari angka yang dilansir dr. Rachmad Sugih. Ahli gizi dari FK-UI ini menyatakan, prevalensi obesitas di negeri ini pada 2002 berkisar 22%-24%. Dengan kata lain, sekitar 48-53 juta penduduk Indonesia mengalami kegemukan. Padahal, menurut Rachmad, tiga tahun sebelumnya, prevalensi obesitas ini baru sekitar 15%-20%.

Meningkatnya kasus-kasus obesitas yang bak deret ukur ini memang bukan hanya ada di Indonesia. Badan kesehatan dunia, WHO, bahkan menyatakan masalah kelebihan bobot tubuh ini sudah menjadi epidemi dunia. Tengok saja, menurut laporan Newsweek edisi 11 Agustus silam, kasus obesitas di dunia meningkat 50% dalam sepuluh tahun terakhir ini. Malah, lembaga obesitas internasional di London, Inggris, memperkirakan sebanyak 1,7 milyar orang di bumi ini mengalami kelebihan berat badan.

Menurut laporan itu, Panama dan Kuwait tercatat sebagai dua negara dengan prevalensi obesitas tertinggi di dunia, yakni sekitar 37%. Setelah itu Peru (32%) dan Amerika Serikat (31%). Di Brasil, lonjakan obesitas yang cukup mengejutkan justru pada anak-anak, dengan kenaikan kasus sebesar 239%.

Data kenaikan obesitas di Amerika Serikat pun dikeluarkan oleh badan pusat statistik kesehatan nasional, NCHS. Menurut lembaga itu, hampir sepertiga penduduk negeri itu tergolong obese. Jumlahnya yang sekitar 31% pada 2000 itu meningkat dua kali lipat dibanding dua dekade sebelumnya yang hanya sekitar 15%.

Di Eropa, kasus serupa dialami Inggris. Menurut angka yang dilansir dalam konferensi obesitas internasional di Milan, Italia, pada 6 September silam, “negeri pizza” itu menjadi negara nomor wahid dalam kasus obesitas pada anak-anak, dengan angka prevalensi 36%. Di bawahnya, menurut Tim Obesitas Internasional, adalah Spanyol, dengan prevalensi 27%.

Kasus serupa juga dihadapi Inggris, negara lainnya yang cukup terancam dengan kasus obesitas pada anak-anak. Malah, sebuah penelitian obesitas pada anak di negeri itu memperlihatkan persentase dan hasil tak jauh berbeda dengan penelitian dr. Damayanti. Hasil riset di Inggris ini menyebutkan, 26% dari semua anak obese usia 11-14 tahun yang diteliti sudah memperlihatkan beberapa faktor risiko terkena penyakit jantung koroner. Faktor-faktor itu, antara lain, gejala tekanan darah tinggi dan meningkatnya kadar lemak jahat.

Soal adanya kaitan obesitas pada anak-anak dan kemungkinan jantung koroner ini pun dibenarkan oleh Prof. dr. Nurhay Abdurrahman, ahli penyakit dalam dari FK-UI. Dalam konferensi pers pada 26 September silam, ia mewanti-wanti para orangtua agar waspada terhadap obesitas pada anak-anak. Sebab, anak-anak yang kegemukan kemungkinan besar akan menderita penyakit jantung koroner pada usia 30-40 tahun.

Nurhay juga menyinggung hasil penelitian di Inggris tersebut. “Barangkali ini karena anak-anak di sana suka jajan sepulang sekolah. Di sini pun, saya lihat anak-anak kalau pulang sekolah ngumpul jajan dulu, nanti di rumah makan lagi,” katanya.

Obesitas alias kegembrotan memang kerap didekatkan dengan penyakit jantung. Dari kasus-kasus penyakit jantung di dunia, sekitar 21% terkait dengan masalah bobot tubuh sangat berlebihan ini. Kaitan obesitas dengan penyakit jantung terletak pada adanya unsur enzim lipase dalam lemak. Di dalam pembuluh darah, lipid berbentuk trigliserida yang bisa berasal dari beragam makanan, termasuk yang mengandung karbohidrat. Jika kalori dalam tubuh tidak segera digunakan, trigliserida akan bertumpuk di sel-sel lemak, tak terkecuali di jantung.

Selain itu, makanan berlemak jelas-jelas mengandung kolesterol. Dalam takaran normal, kolesterol berfungsi membentuk dinding sel, hormon, dan jaringan. Tetapi, kalau kolesterol dan trigliserida terlalu banyak, pembuluh darah pun tersumbat. Walhasil, orang obese ini pun bisa terkena serangan jantung dan stroke.

Bukan saja penyakit jantung. Obesitas juga sangat dekat dengan penyakit diabetes melitus alias sakit gula. Dari sekitar 176 juta penderita diabetes di bumi ini, 80% di antaranya dialami orang-orang obese. Sebab, obesitas bisa menyebabkan fungsi hormon insulin terganggu, sehingga kadar gula darah penderita kegemukan pun meningkat. Kalau dibiarkan terus, orang obese tadi pun terkena penyakit gula.

Ini tentu saja peringatan bagi para orangtua yang memiliki anak kegemukan, seperti Sarjana tadi. Apalagi, konon, Indonesia sudah digolongkan masuk ke era obesogenik. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan perekonomian penduduk, di negeri ini tercipta sebuah lingkungan yang cenderung menyebabkan anak-anak jadi makin gendut.

Erwin Y. Salim dan Heni Kurniasih
[Kesehatan, GATRA, Edisi 48 Beredar Jumat 10 Oktober 2003]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: