Saya

DR. Dr. Damayanti R. Sjarif, SpA(K)
Si Cuek Sarat Prestasi


Tidak ada kata sulit dalam kamus perjalanan hidupnya. Memahami persoalan dan tahu apa tujuannya, adalah kunci suksesnya.

Di buku-buku banyak sekali diceritakan kisah tentang perjuangan dokter yang heroik. Misalnya, perjuangan seorang dokter di daerah terpencil, lengkap dengan derita-deritanya. Kini cerita seperti itu mulai langka terdengar. Farmacia secara tidak sengaja menemukan lagi cerita perjuangan dokter di daerah super terpencil. Sumber cerita bukan berasal dari buku atau televisi, tapi live dari bibir DR.Dr. Damayanti R. Sjarif, SpA(K), Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik Departemen Ilmu Penyakit Anak FKUI/RSCM. Cara bertutur wanita ramah dan menyenangkan ini, membuat cerita bertambah seru. Terutama di bagian saat ia terombang-ambing di tengah laut di wilayah Nusa Tenggara Timur, saat PTT.
Yanti, demikian perempuan campuran Minang dan Jawa itu biasa disapa, kini dikenal sebagai ahli nutrisi dan penyakit metabolik anak, yang mendunia. Berbagai penelitiannya diterbitkan di jurnal internasional. Salah satunya, tentu sejawat Dokter sudah tahu, adalah penemuan dan penelitiannya tentang Glycerol kinase deficiency. Penelitian tersebut kini tersimpan rapi di Online Mandelian Inherited In Man (OMIM). Tapi siapa sangka, karirnya sebagai dokter dimulai di sebuah Puskesmas di Kecamatan Kupang Barat, salah satu wilayah paling tertinggal di Propinsi NTT. Di daerah ini dia sanggup berprestasi dan kemudian dinobatkan sebagai dokter puskesmas teladan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada 1987.
Lulus kedokteran di FKUI 1983, Yanti yang sejak kecil dibesarkan dalam keluarga terhormat dan terpandang memilih praktik (PTT) di daerah terpencil, Irian Jaya. Padahal, salah satu kerabat dekatnya pejabat di Depkes. Kalau saja mau, ia bisa langsung praktik di Jakarta. Tapi si pelahap ratusan buku sejak balita ini ngotot. Ia benar-benar ingin menjalani PTT di daerah sangat terpencil di mana tidak ada dokter di sana. Tapi sayang, saat itu kondisi Papua tidak kondusif dan tengah berkecamuk konflik. Pilihannya pun jatuh ke NTT, yang tidak kalah terbelakangnya dengan Papua.
Saat permohonannya dikabulkan, Yanti bersama satu lagi rekannya yang kebetulan memiliki pilihan sama, jingkrak-jingkrak nggak ketulungan bersorak gembira. Rekannya yang lain menatap heran pada kedua orang ini. “Dasar aneh! Mungkin begitu pikiran orang yang melihat kita,“ ujar Yanti terbahak, mengingat kejadian puluhan silam.
Yanti ditempatkan di Kecamatan Kupang Barat di Puskesmas Batakte, Pulau Semau. Di sinilah langkah berani seorang dokter muda berparas kekanak-kanakan, dimulai. Petualangannya di Kupang Barat yang mencakup 30 desa, bila diceritakan tidak akan selesai dalam sehari. Tapi semua kerja keras dan niat tulus untuk membantu pasti berbuah manis. Tak hanya taraf kesehatan masyarakat yang meningkat, tapi kualitas hidup masyarakat di Kupang Barat juga bertambah baik. Puskesmas Batakte selalu menjadi terbaik hingga saat ini, berkat warisan Damayanti. Tak heran saat Yanti harus kembali ke Jakarta, hampir seluruh penduduk desa mengantarnya ke Bandara. Tentu saja lengkap dengan oleh-olehnya, buah-buahan yang ditanam penduduk hingga kambing untuk dokter tercinta!
Keberhasilan Yanti sebenarnya tidak lepas dari kepribadian sederhana, low profile, semangat ingin membantu, dan sikap tak kenal takut. Ini memudahkan ia bisa membaur dengan siapa saja. Hingga kini, sifat itu tak terkikis sedikitpun, meski kesuksesan sudah diraihnya. Pasien-pasiennya di RSCM yang sebagian besar pasien kurang gizi, bisa tertolong lewat sentuhan magic-nya. Atas inisiatif sendiri, dan kepandaian negosiasinya dengan produsen susu formula, pasien-pasiennya yang kebanyakan dari kalangan tidak mampu bisa mendapat terapi nutrisi terbaik. Di ruang kerjanya di lantai dua Bagian Ilmu Kesehatan Anak, puluhan dus susu untuk pasien menumpuk. Dari para donatur dalam dan luar negeri.
Ngotot Berbuah Temuan Baru
Damayanti dilahirkan di Padang. Ayahnya seorang insinyur, dan ibunya guru. Tapi masa kecilnya dihabiskan di Bandung. Selepas SMP, Yanti pindah ke Jakarta. Sejak kecil, Yanti sangat suka membaca. Apapun dibaca Yanti kecil. Koran bekas pun disantap bila buku sudah tak tersedia lagi. Beranjak remaja, Yanti mulai berani keluar, buat cari buku. Pasar Mayestik pun diubeknya. Komik kuno hingga buku-buku berbahasa Inggris milik sang ayah pun jadi langganannya.
Ibarat jalan tol, kegemaran Yanti membaca itu mempermulus jalannya menggapai cita-citanya. Ditambah lagi dia diberkahi otak yang cerdas. Ini terbukti dari banyak prestasi yang diraihnya. Dalam setiap jejang pendidikan, Yanti selalu menonjol dan menggondol juara kelas. Bahkan Yanti sukses menyabet gelar siswa SMP teladan dan siswa SMU teladan se-Jawa Barat. Tak hanya di bidang akademis, Yanti pun berhasil terpilih sebagai penggerek bendera paskibraka se-Jawa Barat. Berbekal itu semua, tak ayal kursi di FKUI pun diperolehnya dengan mudah.
Saat sudah menyandang gelar spesialis anak dan bertugas di RSUD Brebes, Yanti dipanggil oleh Prof Sutan Hasyim dan Prof. Samsudin agar kembali ke Jakarta. Ia disuruh belajar penyakit metabolik dan genetik di Universiteit Utrecht, Belanda, selama 4 tahun. Tentu saja ia menolak. “Saya mau ke negara yang berbahasa Inggris. Saya ingin ke Amerika,“ ujarnya. Tapi bonus bahwa dia bisa menjadi ahli sekaligus memperoleh gelar PhD di Belanda akhirnya membuatnya ia mengangguk. Yanti hengkang ke Belanda.
Tapi rupanya, untuk memperoleh gelar ahli sekaligus PhD, pihak Utrecht mensyaratkan pendidikan 8 tahun, sementara jatah Yanti hanya 4 tahun. Namanya juga Damayanti. Senjata negosiasi pun dilancarkan. “Saya bilang saya bisa, karena tidak punya keluarga di sini, jadi bisa penelitian sabtu-minggu. Saya bahkan mengancam hanya akan belajar setahun kemudian kembali ke Indonesia bila tidak disetujui. Akhirnya mereka mengalah dan berkata, coba saja kalau bisa,“ tutur pengagum Dr. Martinus Duran, dosennya di Belanda yang sangat pintar namun rendah hati dan sederhana.
Setelah memperoleh persetujuan, Yanti berusaha keras membagi waktunya antara praktik di klinik sebagai ahli dan melakukan penelitian. Bahkan Yanti berhasil menemukan hal baru seperti dipaparkan di awal tulisan, Glycerol kinase deficiency. Kebetulan penelitian ini berangkat dari seorang pasiennya (5 tahun) yang masuk dengan kondisi koma. Setelah diperiksa ternyata, glycerol pasien tinggi dan didiagnosa mengalami glycerol kinase deficiency. Yanti kemudian memeriksa semua keluarga inti, sepupu, dan kakeknya, ternyata semuanya memiliki kadar glycerol tinggi. Anehnya, kenapa hanya si anak yang koma sedangkan si kakek tidak mengalami kejadian serius.
Melihat keanehan tersebut, Yanti akhirnya memutuskan masuk laboratorium untuk memeriksa genetik keluarga tersebut. Setelah diperiksa, ternyata Yanti menemukan bermacam-macam hingga 5 studinya semua dianggap sebagai penemuan baru. Semua mutasi gen keluarga itu sama, tapi ada faktor lingkungan. Misalnya keadaan anak yang kurang makan akibat diare atau muntah dan berpuasa ternyata bisa menyebabkan koma karena lemaknya tidak bisa dimetabolisme. Namun kondisi ini biasanya akan teratasi dengan sendirinya bila anak sudah mencapai usia 10 tahun. Pasalnya, mekanisme hati si anak sudah bekerja.
“Dengan mengetahui hal itu, maka penanganan pasien anak seperti adalah gampang, cukup dengan pemberian infus saja dan tunggu sampai usia 10 tahun. Sebelum penelitian saya dipublikasikan, banyak sejawat yang memberi glycerol untuk mengatasi penyakit ini, bahkan ada yang mengganti liver si anak. Orang kan jadi aneh-aneh karena tidak tahu, padahal cara pengobatannya mudah sekali,“ kata wanita yang pernah berkeingina untuk menyelesaikan post doc dengan Prof.Dr. Hugo Moser, peneliti Lorenzo’s Oil yang pernah difilmkan, tapi urung karena sang profesor keburu meninggal.
Urung melanjutkan post doc-nya, Yanti kini sibuk mengajar mahasiswanya di FKUI. Dalam mengajar Yanti tidak mau jadi dosen kuno. Dia meminta mahasiswanya untuk presentasi dengan mencari berbagai literatur terbaru di internet dan teksbook. Alhasil Yanti berpacu dengan mahasiswanya dalam menelusuri berbagai literatur. Terkadang mahasiswa punya literatur yang lebih baru. Tapi Yanti menyikapinya dengan sportif. Dia biasa berkata, “Kamu baca di mana, nanti saya baca dan bandingkan. Ilmu itu milik siapa saja. Siapapun bisa dapat lebih dahulu,“ ujarnya.
(Arnita, Ana)

Hasil karya

  • Sjarif DR, Inborn errors of metabolism in Indonesia, Journal of Inherited Metabolic Disease 29: 25-25 Suppl. 1 AUG 2006
  • Prawitasari T, Sjarif DR, Clinical improvement after administration of carnitine and ubiquinone in possible respiratory chain disorders, Journal of Inherited Metabolic Disease 29: 116-116 Suppl. 1 AUG 2006
  • Sudewi NP, Sjarif DR, Metabolic acidosis and failure to thrive, Journal of Inherited Metabolic Disease 29: 121-121 Suppl. 1 AUG 2006
  • Indawati W, Sjarif DR, Intelligence impairment in Morquio syndrome type IVA: A case report, Journal of Inherited Metabolic Disease 29: 149-149 Suppl. 1 AUG 2006
  • Sjarif DR, Hutapea E, A Bataknese family of two siblings with Sanfilippo syndrome: First case report in Ciptomangunkusumo Hospital, Jakarta, Indonesia , Journal of Inherited Metabolic Disease 29: 149-149 Suppl. 1 AUG 2006
  • Meilany TA, Prawitasari T, Sjarif DR, A child with suspected Morquio syndrome: A challenge to established diagnosis, Journal of Inherited Metabolic Disease 29: 152-152 Suppl. 1 AUG 2006
  • Sjarif DR, Revesz T, de Koning TJ, et al. Isolated glycerol kinase deficiency and Fanconi anemia, American Journal of Medical Genetics 99 (2): 159-160 MAR 1 2001
  • D. R. Sjarif, L. Dorland, W. Sperl, T. J. de Koning, F. A. Beemer, B. T. Poll-The und M. Duran, Hyperketonaemia in glycerol kinase deficiency, Journal of Inherited Metabolic Disease, Volume 23, Number 7 / November 2000, DOI 10.1023/A:1005680211483
  • Sjarif DR, Dorland L, Sperl W, et al., Hyperketonaemia in glycerol kinase deficiency, Journal of Inherited Metabolic Disease 23 (7): 760-764 NOV 2000
  • Sjarif DR, van Amstel JKP, Duran M, et al., Isolated and contiguous glycerol kinase gene disorders: A review, Journal of Inherited Metabolic Disease 23 (6): 529-547 SEP 2000

One Response to Saya

  1. damayantirsjarif says:

    Happy Birthday, biyan, semoga biyan tambah sukses.

    jadi makan2nya kapan?

    dari,

    Fina, eca & khansa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: